KataNusa.com
Halo,

Pembaca

Download our available apps

Apple IoS KataNusa.com Android Apps KataNusa.com
Helen Dale, Sosok Penulis Termuda Pemenang Australia's Miles Franklin Award
Helen Dale, Sosok Penulis Termuda Pemenang Australia's Miles Franklin Award
Razira Balqis

Helen Darville atau biasa dipanggil Helen Dale lahir dengan nama Helen Demidenko di kota Brisbane, Queensland, Australia pada tanggal 24 Januari 1972. Helen Demidenko mempublikasikan dirinya sebagai Helen Darville pada tahun 1995. Helen Demidenko diketahui memiliki ibu dari Irlandia dan ayah dari Ukraina.

Helen Dale pernah menjalankan studi di Redeemer Lutheran College di Rochedale. Kemudian dia melanjutkan studi tingkat pascasarjana di University of Queensland. Pada tahun 2012 ia menerima gelar Bachelor of Laws di Edinburgh Law School.

Helen Dale dahulunya bekerja sebagai pengacara, namun setelah berhasil dengan buku pertamanya, Dale memutuskan untuk melanjutkan karirnya sebagai penulis. Dale memenangkan penghargaan untuk novel pertamanya yang diduga berdasarkan dari cerita keluarganya.

Ia dikenal publik karena novel pertamanya yang kontroversial yaitu novel yang bertajuk "The Hand that Signed the Paper", sebuah novel tentang keluarga Ukraina yang berkolaborasi dengan Nazi dalam Holokaus. Sebelumnya ia bekerja sebagai pengacara dan staf politik juga belajar hukum di Oxford. Buku pertamanya ditulis saat sedang studi sastra Inggris di University of Queensland, Australia.

Pada tahun 1993, novel The Hand that Signed the Paper sudah memenangkan penghargaan Vogel untuk sastra Australia yaitu untuk naskah yang bahkan belum terpublikasikan. Lalu Dale menerbitkan bukunya pada tahun 1994 dan memenangkan perhargaan Miles Franklin Award pada usianya yang ke 24 yang menjadikannya sebagai pemenang termuda untuk award tersebut.

Tahun 1995, terdapat skandal terhadap karyanya tersebut karena dia salah mengklaim keturunan Ukraina sebagai bagian dari dasar buku, hal ini menimbulkan perdebatan tentang sifat identitas, etnis, dan keaslian dalam sastra Australia. Akibat kekeliruan tersebut karyanya disebut sebagai "tipuan sastra" di The Sydney Morning Herald . Novel tersebut kemudian diterbitkan kembali dengan nama resminya, Helen Darville. Ia memenangkan Medali Emas pada Australia Literary Society tahun 1995.

Novel "The Hand that Signed the Paper" memunculkan suatu kontroversi yang sangat mengundang perhatian banyak pihak. Novel ini menonjolkan cerita tentang keluarga Ukraina yang ikut dalam tragedi holokaus. Tragedi holokaus dirujuk dari wikipedia dikenal pula sebagai Shoah, adalah genosida terhadap kira-kira enam juta penganut Yahudi Eropa selama Perang Dunia II, suatu program pembunuhan sistematis yang didukung oleh negara Jerman Nazi, dipimpin oleh Adolf Hitler, dan berlangsung di seluruh wilayah yang dikuasai oleh Nazi.

Dinovel dilihatkan bahwa karakter membenarkan kekejaman mereka sebagai balas dendam terhadap "Bolshevik Yahudi" yang dianggap bertanggung jawab atas penindasan di Ukraina. Allen & Unwin menerbitkan buku itu pada tahun berikutnya, memberikan nama penulis sebagai Helen Demidenko. Ia kemudian memenangkan medali emas Australian Society for the Study of Australian Literature dan Miles Franklin Award, sebuah pencapaian yang menakjubkan bagi seorang penulis muda.

Teman saya Izza bertanggapan, "Novel the hand that signed the paper adalah cerita yang akan mengejutkan para pembacanya dengan kekejaman para komunis stalin terhadap petani urkanian yang desanya dihancurkan dan keluarganya dibunuh. Novel ini juga sangat luar biasa sebuah kisah mengejutkan tentang kebencian yang memberi kehidupan jahat, tetapi juga merupakan permohonan yang fasih untuk perdamaian dan keadilan"

Kontroversi awal yang muncul atas buku tersebut berasal dari tuduhan antisemitisme yang mengklaim bahwa, pada dasarnya, novel itu sendiri memiliki sikap yang sama dengan yang digambarkannya. Sebagai salah satu kritikus berpendapat,

"Ukraina adalah karakter yang digambar tipis yang sulit dibedakan dan orang-orang Yahudi adalah penjahat kartun, langsung dari pembaruan Ukraina dari The Protocols of Zion".

Kontroversi kedua, yang tumpang tindih dengan yang pertama, kurang berkaitan dengan buku daripada penulisnya. Publisitas buku tersebut menekankan nenek moyang Demidenko dari Ukraina, yang diduga menjadi sumber materi kontroversialnya. Dalam wawancara, novelis itu berbicara panjang lebar tentang keluarganya dan hubungan mereka dengan Holokaus.

"Saya sangat bergantung pada ingatan ayah saya tentang seperti apa kelaparan itu," jelasnya, "dan saudara lelakinya dan beberapa kerabat saya yang lain juga".

Tak satu pun dari yang dikabarkan itu benar. Demidenko mengatakan bahwa pada kenyataannya,dia lahir sebagai Helen Darville, putri dari pasangan Inggris - dan pengungkapan tentang penipuannya yang luar biasa mempermalukan para pendukung buku itu, banyak di antaranya mengandalkan klaim tentang "keaslian" dalam pembelaannya.

Pada akhir 1995, Helen Daniel, pengedit Review buku Australia, memberi tanggapan :

"Saya percaya Demidenko/Darville tidak pantas mendapatkan penghargaan ASAL maupun Miles Franklin. Saya percaya dia telah membawa rasa malu dan kemarahan kepada komunitas sastra dan melakukan kerugian besar bagi kredibilitas sastra negara ini. Atas dasar apa dia harus diizinkan untuk menyimpan penghargaan ini?"

Dale juga merilis buku setelah novel pertamanya ini yaitu, Kingdom of the Wicked Book One: Rules di tahun 2017 dan Kingdom of the Wicked Book Two: Order di tahun 2018. Helen Dale juga aktif didunia maya terutama pada salah satu platform terkenal yaitu twitter. (***)

*Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Unand

Komentar Opini